Pemkab Sangihe Gelar Dialog dan Pawai Kerukunan, Bupati Thungari Tegaskan Sangihe Sebagai Gerbang Toleransi dan Benteng Ideologi di Utara Indonesia

Uncategorized85 Dilihat

SANGIHE — Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sangihe kembali meneguhkan komitmen dalam merawat harmoni dan memperkuat toleransi antarumat beragama. Hal itu diwujudkan melalui Dialog dan Pawai Kerukunan Umat Beragama Tahun 2025 yang digelar di Papanuhung Santiago Tampungang Lawo, Rabu (30/10/2025).

Dalam kegiatan yang mengangkat tema “Moderasi Beragama: Merawat Keberagaman, Memperkuat Persaudaraan, dan Membangun Sangihe yang Rukun, Damai, dan Sejahtera Gerbang Kerukunan di Utara Indonesia”, Bupati Kepulauan Sangihe Michael Thungari mengajak seluruh masyarakat untuk menjadikan Sangihe sebagai gerbang toleransi dan benteng ideologi Pancasila di ujung utara Nusantara.

Kegiatan ini dihadiri oleh unsur Forkopimda, para tokoh agama, tokoh masyarakat, pelajar, serta ribuan wargadari berbagai latar belakang yang memadati area pelaksanaan dengan penuh semangat kebersamaan.

“Kegiatan ini menjadi momentum penting untuk memperkuat semangat persaudaraan, toleransi, dan kebersamaan antarumat beragama di daerah kita,” ujar Bupati Thungari dalam sambutannya.

Ia menegaskan, meski Sangihe berada di wilayah terluar dan berbatasan langsung dengan Filipina, masyarakatnya tetap mampu menjaga stabilitas dan memelihara kebinekaan dengan damai.

“Inilah kebanggaan kita. Di tengah keterbatasan, masyarakat Sangihe mampu menjadi contoh nyata bagaimana perbedaan bisa dirajut menjadi kekuatan yang menyatukan,” ungkapnya disambut tepuk tangan hadirin.

Bupati Thungari turut menyampaikan apresiasi kepada Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB), Kementerian Agama Provinsi Sulawesi Utara, serta seluruh pihak yang terus berkomitmen menumbuhkan semangat toleransi di daerah perbatasan. Ia juga memberikan penghargaan khusus kepada Kepala Kanwil Kemenag Sulut, Dr. Drs. KH. Ulyas Taha, M.Pd, yang hadir sebagai narasumber dalam dialog kerukunan.

Lebih lanjut, Bupati menekankan bahwa kerukunan bukan sekadar slogan, melainkan gaya hidup yang harus diwujudkan setiap hari. Melalui pawai ini, masyarakat diajak menunjukkan bahwa perbedaan agama, suku, dan budaya bukan alasan untuk terpecah, melainkan anugerah yang harus dijaga bersama.

“Pemerintah daerah terus memperkuat nilai kebersamaan ini melalui program pembangunan yang berlandaskan nilai religius dan kearifan lokal,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Bupati juga menyoroti tantangan ideologi dan arus digitalisasi yang kian kuat memengaruhi cara pandang masyarakat. Ia mengingatkan pentingnya ketahanan ideologis dan literasi digital, khususnya bagi generasi muda, agar tidak mudah terpengaruh narasi negatif yang dapat memecah kerukunan.

Untuk itu, Bupati Thungari memaparkan lima strategi menghadapi pengaruh ideologi transnasional, yaitu:

1. Penguatan pendidikan Pancasila dan moderasi beragama di sekolah serta rumah ibadah.

2. Peningkatan literasi digital bagi ASN dan masyarakat.

3. Kolaborasi lintas agama dan budaya melalui dialog lintas iman.

4. Pemanfaatan teknologi untuk menyebarkan konten positif dan nilai kebangsaan.

5. Kewaspadaan berbasis kearifan lokal agar masyarakat mampu memilah pengaruh baik dan buruk.

“Waspada bukan berarti curiga, tetapi peka terhadap perubahan dan mampu membedakan mana yang membangun dan mana yang merusak,” tegasnya.

Dalam kesempatan yang sama, Bupati Thungari juga mengingatkan pentingnya falsafah hidup masyarakat Sangihe, ‘Matilang, Mateleng, Matèling su Suralungu Mètatèngkang’, yang bermakna berpikir jernih, berhati-hati, taat aturan, serta menjaga keharmonisan dalam hidup bermasyarakat.

“Jika masyarakat berpikir jernih dan saling menghormati, maka tidak akan ada ruang bagi ideologi yang memecah belah,” ujarnya.

Mengakhiri sambutannya, Bupati mengajak seluruh peserta pawai, tokoh agama, dan masyarakat untuk terus menebarkan kasih, mempererat silaturahmi lintas iman, dan memupuk solidaritas demi kedamaian Sangihe.

“Mari kita jadikan Sangihe bukan hanya gerbang utara Indonesia, tetapi juga benteng ideologi Pancasilayang memancarkan semangat toleransi dan persaudaraan sejati dalam bingkai Torang Samua Basudara. Hanya dengan persatuan dan kerukunan, kita dapat membangun masa depan Sangihe yang lebih baik,” pungkas Bupati Thungari. (JA)